Mardoton, Tangkap Ikan Tanpa Merusak Perairan

DELFMRADIO.CO.ID

Masyarakat Batak mengenal istilah menangkap ikan secara tradisional dengan sebutan MARDOTON. Tradisional maksudnya menangkap ikan memakai “doton” atau jaring berbahan kain yang berukuran agak besar.

Membuat doton tidak bisa sembarangan. Ada aturan dan hitung-hitungan tepat dalam membuat doton agar hasil tangkapan ikannya baik.

Meski sulit, mardoton sangat baik diterapkan karena tidak merusak perairan. Dengan doton, ikan yang tertangkap hanyalah yang berukuran besar, sementara yang kecil akan lepas. Selain itu, perairan juga tidak akan tercemar, jika membandingkan dengan penangkapan ikan menggunakan racun, setrum dan sebagainya.

Baca juga | Hari Kedua Trail Of The Kings, Kategori 50K dan 27K Tanding

Seorang nelayan Toba asal Desa Sirungkungon, Boru Manurung, adalah satu dari sekian banyak nelayan yang masih rutin melakukan aktivitas mardoton, Setiap harinya, Boru Manurung mengais rezeki dari perairan Danau Toba berharap ada ikan-ikan sangkut pada jaringnya.

“Berangkat subuh-subuh sekitar jam 6 pagi, itu aku menarik jaringlah. Terus sore hari, pergi lagi kupasang lagi lah jaring-jaringnya.” cerita Boru Manurung melalui tayangan YouTube delfm radio.

Boru Manurung biasanya berangkat ke lokasi penjaringan di Desa Sirungkungon dengan menggunakan kapal kayu. Dengan jarak tempuh sekitar 20 menit, barulah ia mencapai lokasi jejaring tersebut.

“Kalau udah sampe lokasi ini, aku langsung ganti pakai kapal kecil berbahan drum ini. Karena kalau pakai kapal kayu itu, takutnya baling-balingnya akan merusak jaring-jaring. Nanti kalau selesai, kita ikatlah lagi kapal drumnya, terus pulang pakai kapal kayu itu,” lanjutnya.

Kapal drum milik Boru Manurung yang dikenakan untuk mardoton itu ukurannya kecil, hanya sekitar 1,5meter kali 1 meter. Persisnya hanya terbuat dari tiga bilah belahan drum air berdaya tampung 150 liter air.

Namun kapal itu cukup untuk menampung ikan-ikan hasil tangkapan yang menurut Boru Manurung sudah sangat jauh berkurang. Hal itu juga lah yang membuat masyarakat mulai beralih ke aktivitas lain, selain mardoton.

Tangkap Red Devil

Satu per satu jaring ditarik oleh Boru Manurung dengan cekatan. Ia menarik ikan yang tersangkut pada jaring usai memakan umpan ikan yang ia letakkan.

“Jadi beginilah, ikannya harus kita tarik satu-satu, pelan-pelan supaya tidak merusak jaringnya,” terangnya sembari menarik ikan.

Boru Manurung tampak berhasil mendapatkan beberapa jenis ikan, seperti Ikan Red Devil, Mujair hingga Lobster air tawar. Keseluruhan berat ikan tersebut mencapai berat sepuluh kilogram.

“Kalau beruntung kita bisa mendapat ikan Red Devil ukuran besar, bisa sampai 3,5 sampai 4 kilogram,” tukasnya.

Namun kemudian, Boru Manurung menyampaikan curahan hatinya terkait harga ikan khususnya Red Devil yang masih sangat murah. Kata dia, harganya hanya berkisar Rp7 ribu per kilogram, tidak sebanding dengan harga umpan dan jaring yang mereka bayarkan.

“Sekarang kami lebih banyak mendapatkan Ikan Red Devil ketimbang Mujair atau jenis ikan lainnya, padahal harganya murah. Itu makanya kawan-kawan mulai absen mardoton.”ceritanya.

Selain murah, menurutnya Ikan Red Devil juga masih menjadi persoalan yang hingga sekarang belum berujung. Salah satunya menyangkut keberadaan ikan bercorak emas kemerah-merahan ini yang justru mematikan jenis ikan lainnnya.

“Red Devil ini memakan mata dan insang Ikan Mujair, hanya bagian itu aja. Kalau badannya masih utuh, tapi pembeli pasti nggak mau kan beli ikan tanpa mata dan insang. Sebenarnya rasanya manis, tapi itulah harganya murah dan dia memangsa ikan lain, makanya kita bilang predator,” jelasnya.

Sebagai nelayan, Boru Manurung sangat berharap hal ini mendapat perhatian dari Pemerintah. Ia berharap harga ikannya bisa setara dengan Mujair yang bisa mencapai Rp22 ribu per kilogram.

LIVE TIKTOK

Aktivitas mardoton di perairan Danau Toba kerap diperlihatkan oleh Boru Manurung di Tiktok milikinya, atas nama @borumanurung1981. Sekurang-kurangnya lima jam dalam sehari, mulai dari pagi saat menjaring ikan hingga sore hari saat memasang jaring ia melakukan LIVE Tiktok.

Boru Manurung akhirnya berhasil menarik atensi masyarakat luas dan kerap mendapatkan gift maupun stiker dari Tiktok. Dari situ ia mendapat uang tambahan dari platform TIKTOK, endorse, juga orang-orang yang bersimpati dengannya.

“Memang saya bersyukur banyak kali orang yang baik. Kadang ada yang ngirim-ngirim juga untuk biaya tambahan, kadang ada yang ngirim barang juga untuk keperluan Live kayak powerbank, mantel, gitulah,” tukasnya.

Hingga kini followers akun tiktok @borumanurung1981 sudah mencapai angka 249.7K. Tiap Live, penonton yang tertarik untuk menonton aksi Boru Manurung juga bisa mencapai ribuan orang per harinya.

(RMN)

Leave a Comment.